Sabtu, 09 Februari 2019

Resensi Buku Resign Malu Tak Resign Pilu

Penulis             : Fazar Firmansyah
Penerbit           : PT Elex Media Komputindo
Tebal buku      : 200 halaman
Jenis buku       : Nonfiksi, Self Improvement


                     
 Dunia kerja merupakan kehidupan yang penuh warna. Ada saja lika-likunya. Kadang ketika kesejahteraan kita tidak terpenuhi, pekerjaan yang semakin menumpuk setiap hari, hingga teman kantor yang menyebalkan menjadi alasan-alasan tersendiri untuk mengundurkan diri. Namun sepertinya proses resign tidak semudah itu, perlu pertimbangan-pertimbangan jangan sampai salah langkah. Buku terbitan tahun 2018 ini mengajak kita untuk berfikir, benar tidak resign adalah keputusan yang tepat?
            Buku ini berisi kumpulan tulisan yang terbagi dalam tiga bab yaitu tentang masa pencarian kerja, masa kantoran, dan pertimbangan antara resign dan bertahan. Dalam bab pertama banyak menjelaskan tentang mental-mental yang seharusnya dimiliki para pencari kerja. Ada beberapa sendirian tentang para mahasiswa yang mencari jalan pintas dalam meraih sesuatu yang sebenarnya akan berdampak pada reputasinya nanti. Dibahas pula tentang sukses bukan berarti harus jadi PNS dan masih banyak lainnya.
            Penulis banyak menekankan bahwa sebenarnya dalam bekerja itu yang dicari bukan gaji, melainkan juga pengalaman, ilmu dan relasi. Sesekali dikatakan bahwa jangan sampai kita menjadi meminum air yang telah kita ludahi sendiri. Sibuk menjelek-jelekkan perusahaan tapi masih hidup dari gaji yang diterimanya setiap bulan. Berkoar-koar minta kenaikan gaji tapi minim kontribusi.

            Seperti yang saya katakan di awal buku ini berupa kumpulan tulisan, jadi secara pribadi saya berpendapat bisa dibaca secara acak. Yang istimewa dari buku ini menurut saya adalah pemilihan judul maupun sub judul yang cukup menarik perhatian. Banyak pula bertebaran quotes di awal pembahasan baik dari penulis pribadi atau tokoh-tokoh lainnya. Jika saja para pekerja mengaplikasikan sikap-sikap yang diajarkan dalam buku ini, sepertinya perusahaan akan beruntung, rasa syukur terhadap apa pun pilihan pekerjaan yang diambil pun bisa bertambah. Satu hal yang membuat saya tidak nyaman adalah pernyataan yang diulang-ulang dalam sub judul yang satu dengan yang lainnya. Well, mungkin penulis bermaksud untuk menekankan poin tersebut agar semakin diingat betul oleh pembaca. Jadi itu semua tergantung selera masing-masing saja.

Jumat, 25 Januari 2019

Kali Pertama Bertemu



            Seorang teman saya pernah berkata bahwa kadang Allah menjawab pertanyaan atau doa kita melalui perantara manusia. Kala itu saya menanggapinya dengan gerutu, artinya setelah curhat ke Allah terus harus cerita lagi gitu sama orang lain untuk dimintai solusi? Meski lambat akhirnya saya menemukan jawabannya, tidak. Karena Dia mempunyai berjuta cara  untuk memberikan kejutan kepada jiwa-jiwa yang berusaha. Salah satu bukti nyatanya adalah pertemuan pertama di hari Minggu yang berawan itu.
            Mbak Hiday, begitu saya memanggilnya. Sudah lama nomornya tersimpan di antara ratusan kontak lainnya. Sudah lama pula saya ingin bersua. Hanya saja sederet kata tapi menjadi alasan untuk terus menunda. Hingga salah seorang anggota komunitas yang mempertemukan saya dengannya secara online berujar, “Hayo Mbak ke Mak Hiday, sebelum beliau sibuk.” Kalimat itu menghantui saya, benar juga sebelum beliau sibuk, sebelum hilang kesempatan mengapa tidak disegerakan. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertamu, di tengah kekhawatiran jangan-jangan nanti saya nyasar ke jalan buntu.
            Berkat peta yang secara detail sudah dijelaskan jauh-jauh hari oleh seorang adik kelas, saya pun sampai dengan selamat. Saya disambut oleh deretan buku yang tersusun rapi di samping rumah. Berdinding kain, beralas tikar yang digelar, dengan suasana terbuka yang menambah rasa nyaman untuk membaca, begitu saya menjelaskan tempat itu, Sanggar Caraka. Setelah bercengkrama lebih jauh saya baru mengerti, ini bukan sekedar tempat membaca, tetapi berbagai kegiatan literasi dicanangkan, beberapa sudah berjalan bahkan sedang diurus perijinannya melalui Kemenkumham. Harapannya bisa menjadi salah satu roda penggerak perekonomian masyarakat Tuban terutama.   

            Pertama kali tahu nama Hiday Nur itu saat agenda kelas online ODOP batch 6 pada tanggal 30 Agustus 2018. Ketika membaca profil yang disampaikan moderator kala itu saya girang, berasal dari Tuban, sama seperti tempat tinggal saya. Berharap besar agar suatu saat bisa belajar langsung. Sosok yang mengaku belajar menulis melalui komunitas Forum Lingkar Pena (FLP), One Day One Post (ODOP), Sahabat Pena Kita (SPK) dan Gong Traveling: Exploring Singapore ini membawakan materi Personal Branding. Menurutnya cara untuk membuat diri kita menarik, dan layak untuk mendapat sesuatu atas nilai yang kita miliki itu ada tiga tahap penting yaitu mengenali diri, mencitrakan diri, dan mengembangkan diri.
Pada kesempatan lainnya, nama Mbak Hiday muncul lagi dalam acara Bincang Penulis. Saat itu bintang tamunya Kak Umar Affiq dan wanita penulis artikel dan resensi pada majalah Al Uswah Tuban ini menjadi moderatornya. Setelah tertatih-tatih menyelesaikan semua misi ODOP batch 6, akhirnya saya diizinkan bergabung dalam grup besar ODOP di mana Mbak Hiday selaku penasihat ada di sana. Ah senangnya.
Ditemani oleh gorengan hangat, saya semakin tertarik untuk mengenal Mbak Hiday lebih dekat. Sejumlah buku solo serta belasan buku antologi fiksi dan nonfiksi sudah ditulisnya. Bahkan beberapa esai dan artikelnya menjadi modal untuk meraih beasiswa ke luar negeri seperti LPDP dan Life of Muslim in Germany. Seabrek prestasi lainnya pun mengikuti membuat saya semakin merasa jadi remeh-remeh rengginang tiada arti. Beruntung, ibu dua anak ini ramah sekali. Biasanya saya selalu kebingungan dalam mengambil topik pembicaraan dengan orang baru, tapi kali ini obrolan kami terasa ngalir begitu saja.
        “Kadang saya harus seperti nangis-nangis untuk mencari ilham untuk membuat tulisan, mungkin agar saya tidak sombong kali ya, karena mengerti bahwa menulis itu susah,” celetuknya membuat saya membatu. Ini jawabannya, teka-teki yang terus berputar di kepala akhir-akhir ini. Mbak Hiday mengatakannya begitu saja padahal saya tidak bertanya. Saat itu saya hampir putus asa atas usaha menulis yang tidak kunjung kelihatan hasilnya. Saya baru menyadari semuanya butuh proses butuh perjuangan. Andai sekali coba langsung luar biasa entah betapa sombongnya saya. Siang yang tidak begitu terik membawa energi baru untuk berusaha tiada jemu.
      Oh ya, hari itu tujuan utama pertemuan kami adalah belajar PEUBI kemudian dilanjutkan membaca cerpen. Mbak Hiday membacakan sebuah cerita. Katanya membaca dengan keras itu bisa mempermudah kepekaan kita terhadap diksi tulisan karena suara kita ditangkap langsung oleh telinga. Pelajaran-pelajaran lain pun saya peroleh tanpa kesan menggurui dari sosok yang tak bisa lepas dari buku, scholarship, dan traveling ini. Tentang pentingnya membaca bagi penulis karena di dalam buku tersimpan khazanah ilmu. Tentang pentingnya menambah pertemanan karena kita tidak tahu dari teman yang mana kesempatan didatangkan Tuhan. Tentang menjadi produktif yang sebenarnya bisa dilakukan siapa saja asal mau, dan masih banyak lainnya. Terima kasih Mbak Hiday telah menginspirasi. Semoga masih ada kesempatan bagi pertemuan-pertemuan di lain waktu ya Mbak. Semoga kebaikan selalu menyertai Mbak Hiday dan keluarga kecilnya yang sungguh harmonis.
         
Entah ini bisa disebut sketsa tentang Hiday Nur atau tidak. Pada akhirnya tulisan ini saya dedikasikan sebagai ucapan terima kasih atas pertemuan pertama yang cukup berkesan itu serta semoga bisa diikutsertakan dalam event Give Away Hiday Nur.

Backlink hidaynur.web.id


Selasa, 01 Januari 2019

Resolusi Menulis 2019


Sebelumnya saya ingin mensyukuri pencapaian menulis di tahun 2018, ya meskipun sederhana tapi setidaknya lebih baik dari tahun sebelumnya.
1. Tahun ini berhasil mengikuti program ODOP batch 6 sampai selesai, meskipun jalannya tertatih-tatih tapi ada rasa lega yang muncul karena sudah pernah gagal sebelumnya.
2. Berhasil memberanikan diri ikut jadi kontributor buku antologi, meskipun mayoritas melalui investasi tapi melihat ada 4 buku di rumah yang bertuliskan nama saya itu ... sesuatu.
3. Pertama kalinya mengikuti seminar kepenulisan secara offline, meskipun cuma sebentar dan baru sekali, perjuangan melewati ratusan kilometer untuk menuju lokasi sungguh luar biasa.   

   
Selanjutnya, halo 2019 semoga kamu bersahabat dengan mimpi-mimpi saya ya ... J Ada banyak pencapaian yang ingin saya taklukkan tahun ini. Salah satunya yaitu menerbitkan buku solo. Rencananya dalam bentuk novel, bisa masuk ke penerbit mayor, jika indie maunya yang tidak berbayar. Apakah ini berat? Segala sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya memang terkesan berat. Tapi tenanglah wahai diri, kamu bisa menyiapkan perbekalan, membuka peta, dan menyusun rencana untuk bisa sampai ke sana. Inilah daftar perjuangan untuk mewujudkannya:
1.      Membuat daftar strong why
Ini penting sekali, karena kitaka kamu kelelahan dalam perjalanan strong why yang telah dimiliki sejak awal akan menjadi pemantik tersendiri. Strong why juga menuntun arah untuk mencapai tujuan dengan selamat. Nah untuk hal ini tentunya ada banyak alasan dong yang saya punya mengapa saya ingin menulis buku solo tahun ini.
2.      Membaca buku
Well sepertinya setiap penulis tahu bahwa menulis tanpa membaca itu hambar. Nah dalam hal ini target saya adalah membaca minimal satu buku dalam satu pekan. Untuk menguatkan komitmen saya baru saja mengikuti komunitas One Day One Book. Beberapa buku untuk suplai bacaan bulan ini pun sudah dibeli. Jika kekurangan, aplikasi Ipusnas sudah terinstal kok hehe.
3.      Gabung komunitas kepenulisan
Hal ini penting, karena bisa mematik semangat untuk terus menulis. Ketika teman sudah berhasil menerbitkan buku rasanya nyesek gitu hehe. Selain itu dalam komunitas ini kita bisa sharing. Untuk komunitas beberapa sudah saya ikuti salah satunya yaitu komunitas ODOP.
4.      Ikut mentoring menulis online
Mentoring menulis online sama komunitas itu berbeda. Biasanya mentoring ini berbayar ataupun jika tidak berbayar ya Alhamdulillah. Hal ini bertujuan untuk menemukan mentor yang bisa ditanyai jika bingung di tengah jalan. Tentunya harus menyisihkan rupiah untuk mewujudkannya, jangan banyak-banyak jajan ya hehe.
5.      Baca buku kepenulisan
Beberapa buku kepenulisan sudah saya siapkan. Di antaranya yaitu Kitab Penyihir Aksara, 101 Dosa Penulis Pemula, Plot Twist dan yang masih dalam proses adalah Cara Mudah Menulis Novel. Buku kepenulisan itu semacam pedoman, yang bisa mempermudah perjalanan.

6.      Memasang “penangkap ide”
Ide itu tidak ditunggu tapi dicari. Jika dream catcher saja ada, seharusnya penangkap ide itu pun ada. Ada banyak usaha untuk memunculkan ide. Nah karena ide kadang ditemukan secara tidak terduga pastikan kamu langsung menuliskannya dalam note agar tidak lupa ya. Hal ini sudah saya aplikasikan selama mengikuti program ODOP sih hehe.
7.      Membuat outline
Outline itu salah satu cara untuk menuntun arah tulisan kita. Biar tidak melebar ke mana-mana. Biar tidak bingung mau mengakhirinya seperti apa. Nah untuk mengetahui cara penulisan outline saya masih dalam tahap belajar, semoga segera ditemukan titik terangnya.
8.      Menulis dan menulis
Salah satu cara untuk menjadi penulis ya menulis. Saya bisa menulis di mana saja, di buku diary, blog, instagram dan lainnya. Inginnya sih menulis setiap hari seperti saat ngodop dulu hehe.
9.      Menambah informasi tentang penerbit
Kalau tulisannya sudah jadi nanti pasti dikirim ke penerbit kan? Nah mulailah mengumpulkan informasi sebanyak banyaknya tentang penerbit. Mulai dari genre tulisan yang diterbitkan, gaya tulisan buku yang diterbitkan, cara untuk mengirim naskah dan lainnya. Beberapa sudah referensi dari teman juga untuk penerbit. Semoga naskahnya segera bisa dikirim ke penerbit ya ....


Baiklah itu adalah resolusi saya dalam bidang menulis dan cara untuk mewujudkannya. Semoga mimpi ini segera terealisasi. Wahai diri, yuk langsung take action jangan sampai ini semua hanya wacana belaka. 

Minggu, 30 Desember 2018

Teruntuk Kelas Fiksi ODOP 6

        Masuk kelas fiksi itu seperti hadiah tambahan setelah mendapatkan hadiah utama bisa belajar di program ODOP batch 6. Meskipun ada yang bilang keduanya satu kesatuan. Tapi saya masih merasa kelas ini adalah bonus yang berharga.
Bersyukur, sebuah kata yang mewakili berjuta kesan selama tergabung dalam kelas fiksi. Dari yang awalnya hanya tau cerpen tentang cinta-cintaan, sekarang terbuka wawasannya bahwa genre cerpen itu banyak sekali. Dari yang hanya tau prosa dan puisi jadi tau bahwa ada prosa liris, seperti perkawinan antar keduanya. Dari yang cuma sekedar baca cerpen, baca novel, menonton film sekarang jadi berpengalaman untuk mereviewnya. Intinya dari yang tahu menjadi tahu, dari yang belum bisa setidaknya sudah mencoba.
Macam-macam tantangan juga membuat saya semakin belajar dan menghargai karya orang. Sempat panik ketika disuruh menulis tulisan historial fiction, hingga detik-detik terakhir hampir tidak menemukan inspirasi. Setelah membaca ke sana ke mari dan mulai mencoba menulisnya rasanya senang sekali bisa menyelesaikan tantangan ini. Baru tahu juga ternyata menulis cerpen fantasi itu susah ya hiks.
Belajar bersama orang dengan minat sama membuat saya merasa bahagia bisa lebih dekat lagi antar sesama peserta. Setiap orang punya gaya tulisannya masing-masing. Kewajiban blog walking membuat saya sedikit demi sedikit mengenali dan tentunya belajar dari tulisan mereka. Menyenangkan juga kewajiban yang satu ini, meskipun kadang saya tidak bisa istiqomah melakukannya setiap hari, maaf ya.
Saat disuruh mengkritik program ini saya sedikit bingung. Tapi baiklah akan saya coba. Sebenarnya cukup bagus dalam kelas fiksi ini diperkenalkan bermacam-macam jenis tulisan fiksi. Tapi menurut saya ini membuat kurang fokus. Mungkin bisa dibuat perencanaan di awal, mau khusus belajar di tulisan jenis apa. Jadi belajarnya lebih mateng. Namun, ini juga bisa disiasati dengan keaktifan peserta dalam belajar sih. Soalnya misal hanya fokus di tulisan jenis cerpen, nanti bukan kelas fiksi lagi namanya tapi kelas cerpen hehe. Untuk saran, mungkin akan lebih menyenangkan bila didatangkan lebih banyak tamu dari awal kelas. 
Baiklah sekian curhatan saya seputar kelas fiksi ODOP batch 6 ini. Terima kasih Mbak Wiwid, Mas Wakhid, Mas Yoga, Mas Tian, Mbak Nisa dan semua team yang telah bersusah payah menjalankan kelas ini. Semoga kebaikan kalian dibalas dengan pahala yang berlipat dari Allah. Semoga semakin banyak lagi yang bisa merasakan kebahagiaan belajar dalam kelas fiksi. 

Belajar Pemaknaan Ulang Karya bersama Kak Farrahnanda

       


       Sebenarnya saya telah mengcopy perbincangan bersama Kak Farrahnanda dalam Kelas Fiksi di note ponsel setelah kelas usai. Tapi ya begitulah, karena malas merapikan jadi tidak diposting-posting, maaf ya hehe. Untuk resume kali saya buat percakapan seperti tulisan biasanya saja ya teman-teman.

Tanya: “Mungkin temen-temen juga pernah mengalami sendiri, pas lagi menikmati sebuah karya eh tiba-tiba dapet inspirasi untuk buat sesuatu berdasarkan karya itu. Nah, sejauh mana sih hal itu bisa kita lakukan?”
Jawab:
“Pertama-tama, mari sadari bahwa karya hanyalah seonggok teks/gambar/audio/gambar bergerak tanpa adanya pemaknaan dari pembaca/penonton/pendengar. Kata-kata yang aku tulis ini pun hanyalah teks tak bermakna kalau tak ada pembaca yang berusaha memaknai maksud di balik kata-kataku ini.
Orang-orang yang membuat karya tersebut mempunyai tanggung jawab sebatas pada karya tersebut, bukan pada pemaknaan orang lain terhadap karya mereka. Sementara kita tahu, ratusan atau ribuan penikmat karya tersebut pastilah terisi dari referensi yg berbeda. Misal... ketika membaca kata 'bunga', seorang anak ekonomika/bisnis bisa saja langsung membayangkan bunga (rate) dalam bentuk persentase, sedangkan anak agrikultur membayangkan sebenernya bunga. Jadi pemaknaan kata bunga td jelas tidak bisa seragam (dg asumsi kata tsb tidak diawali/diakhiri kata lain dan tdk dalam konteks tertentu). Karena keragaman pemaknaan inilah, sebuah karya akan lebih hidup lagi jika mendapat respons dari pembaca/pendengar/penonton, dalam bentuk apa pun. Bisa dalam bentuk kritik, resensi, atau pembuatan karya serupa.
Pemaknaan ulang ini bisa dalam bentuk apa sajakah? Macam-macam. Ketika menulis ulang cerita sangkuriang dg membuat cerita tersebut jadi relevan dengan konteks zaman, ini juga bisa disebut pemaknaan ulang. Apakah ini diperbolehkan? Apakah tidak melanggar hak cipta? Apa bedanya dg plagiat? Ada banyak pendapat tentang plagiarisme dalam berkarya. Menurutku plagiat hanya bisa distempel ke sebuah karya ketika tidak ada usaha untuk melakukan pemaknaan ulang atas karya tersebut. Misal, jelas-jelas copy-paste sama persis atau hanya mengubah susunan adegan tapi inti cerita tidak ada yg berubah.

Tanya: “Kalau misal ada adegan yang sama gimana itu Kak? Misal adegan Rose sama Jack yang terbang ala" di ujung kapal titanic itugimana? Kita masukin ke adegan di cerita kita. Apa itu dibilang plagiat?”
Jawab: “Tidak ada yg benar-benar baru di dunia ini. Secara sadar atau ngga sadar, kita pasti melakukan repetisi/pengulangan atas karya lain, apalagi yg cukup memukau bagi kita. Ini sebetulnya beda bahasan, tapi karena relevan, bisa kuambil kujadikan contoh. misal: (contoh dalam foto menyusul)

Tanya: “Soalnya kadang saat nonton film atau baca buku. Ngrasa, duh kayaknya ini bagus deh kalau adegan ini masuk di cerita gue.”
Jawab: “Kurasa kalo seperti ini ngga ada masalah.”

Tanya: “Setuju nggak Kak dengan ungkapan "karya yang baik, pasti menginspirasi orang lain untuk membuat karya juga"
Jawab: “Setuju ngga setuju sih. Beberapa karya baik mempunyai kecenderungan untuk memantik respons penonton/pembaca/pendengarnya. Tapi karya yg tidak menginspirasi pun belum tentu itu tidak baik, bisa aja saking baiknya karya ini satu-satunya cara meresponsnya adalah dengan membiarkan karya tersebut sebagai apa adanya. Rumit amat sih.

Tanya: “Bagaimana dangan karyanya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck? Jadi, si Pak Habiburrahman ini 'nyontek' ke novel luar. Hanya diganti tokoh dan alur cerita aja. Apakah itu termasuk plagiat?”
Jawab: “Life of Pi pun konon terinspirasi cerita dari penulis lain yg justru kalah pamor dari Life of Pi. Garis besar kedua cerita tersebut mirip, tidak disebutkan sebagai karya plagiat tapi kita tau kalau referensi Life of Pi adalah karya tersebut. Setahuku, kasus yg semacam ini masih dalam perdebatan. Menurutku ketika kita meminjam cerita seperti ini kemudian mengganti nama tokoh dan latar tanpa ada usaha pemaknaan ulang, ini tidak bisa dibenarkan. Untuk soal kasus Pak Hamka, Karena aku belum baca kedua buku tersebut jadi aku belum bisa melakukan komparasi dan menentukan apakah ada usaha pemaknaan ulang dari Pak Hamka atas karya tersebut atau tidak.”

Tanya: “Tapi Mbak Far, kasus kesamaan tema, konflik, tokoh itu apakah memang sudah banyak di indonesia ini?”
Jawab: “Belum coba buat telusur lebih jauh, Kak. Tapi yang jelas karena memang tema yang digarap manusia ya memang seputar manusia jadi ya kemungkinan kemiripan-kemiripan tema akan banyak ditemui.”

Tanya:  “Hunger Games dan Battle Royale bisa masuk ya ke pemaknaan ulang ini Kak..”
Jawab:  “Ngga tau ini apa, Kak, jadi nda isa jawab.”

Tanya: “Pernah juga dengar cerita seorang kreator. Cara dia ngerespon suatu karya yg buruk (secara norma) adalah dengan membuat karya yg baik, yg nilainya berkebalikan dengan karya buruk tersebut. Sehingga penikmat karya jadi lebih punya pilihan.”
Jawab: “Ini bisa, untuk membuka banyak pilihan.”

Tanya: “Kak Farrahnanda kan nulis juga ya. Ada gak karyanya yang terinspirasi dari buku/film? Kalau ada apa judul buku/filmnya...”
Jawab:Belum ada satu tulisan khusus yang kutulis untuk merespons karya lain sih. Biasanya hasil mix match sama beberapa referensi lain. Misal salah satu cerpen di kumcerku ada yg bentuknya kupinjam dari gaya-gaya film surealis, tapi kontennya terinspirasi cerita-cerita realisme magis. Iki panganan opo jenenge angel-angel.”

Tanya:  “Aku jg masih bingung, mana yg plagiat, mana yg bisa dijadikan sastra banding?”
Jawab: “Susah sih, karena kriteria plagiat buat suatu karya (seni/sastra) seperti tidak se-rigid kriteria plagiat karya ilmiah yah.”

Tanya: “Nah, kah, aku bingung ini . Apakah plagiat itu to hanya nulis tanpa ada ubahan? Hanya ubah nama dan latar aja. Kalau ada ubahan di konflik, itu kan berupa saduran. Nah, kalau ceritanya hampir sama alur dan konfliknya itu baru dinamakan karya sastra baru (red: bukan plagiat dan saduran) yang bisa menjadi sastra banding?”
Jawab: “Untuk mempermudah, begini sadjo, selama karya yang dibuat merupakan hasil pemaknaan ulang, karya tersebut jelas bukan plagiat. Ranah selain itu masih diperdebatkan.”

Tanya: “Oh iya, bagaimana tanggapan Mbak Farah mengenai orang yg plagiat?”
Jawab: “Kasihan itu orang bener-bener kehabisan ide apa gimana sampe plagiat.”


            Kalimat terakhir Kak Farrahnanda jleb banget ya hehe. Demikian resume kelas tanggal 23 Desember 2018 lalu. Semoga bisa diambil pelajaran dari  perbincangan di Kelas Fiksi ini. Terima kasih sudah membaca.

Sabtu, 22 Desember 2018

Belajar Menggali Ide bersama Kak Umar Affiq



Tamu spesial kelas fiksi kali ini lahir di Rembang, 14 Desember 1992, nama lengkapnya yaitu Mohammad Umar Muwaffiq dengan nama pena Umar Affiq. Penulis satu ini punya banyak hobby juga loh, selain nonton naruto, baca komik naruto, dan membaca? Dulu sih sempat suka menggambar tapi sekarang jarang banget oret2 kertas. Duh intinya hobbynya apa sih hehe pusing saya.
Nah kalo ada niatan mentraktir Kak Umar bisa nih mengintip menu makanan favoritnya. Laki-laki dengan angka kesukaan 7 ini menyukai lontong tahu atau tahu lontong, mie ayam (agak pilih2), bakso (gak pilih2) tapi belakangan ini ingin jadi herbivora dan meninggalkan daging-daging, suka sama buah anggur dan tidak suka pada buah yang memiliki tekstur butir2 kecil kasar seperti kersen atau baleci.
Sebagai penulis pasti punya favorit dong, siapa hayo? Penulis favorit Kak Umar yaitu Eka Kurniawan, Eko Triono (dalam cerpen yang bukan eksperimental), Budi Darma, M. Aan Mansyur. Tapi katanya sih daftar nama ini hanyalah daftar sementara yang bisa berubah sewaktu-waktu tanpa memberitahu pemilik namanya.
            Tidak diragukan lagi Kak Umar sudah punya banyak karya yang cukup fenomenal. Sayangnya saya belum punya satu pun hiks. Karya tulis kak Umar di antaranya beberapa puisi, resensi dan cerita pendek sempat tersebar di media luring dan daring. Pernah dapat juara 2 lomba nulis resensi divapress dan ini menjadi pijakan pertama buat terus nulis. 2015 juara 1 lomba cipta cerpen yang diadakan Gerakan Tuban Menulis, 2015 masuk long list lomba cerpen
tamanfiksi.co. 2016 masuk nominasi lomba  cerpen santri nasional oleh Kemenag RI, 2017 memenangi kompetisi cerpen Kampus Fiksi Emas #4 dengan cerpen Hari Anjing-Anjing Menghilang. 2018 menerbitkan buku kumpulan cerpen pertama dengan judul Di Surga, Kita Dilarang Bersedih
            Sudah cukup ya kenalan sama Kak Umarnya, sekarang yuk kita intip obrolan Kak Umar dengan peserta tentang Menggali Ide. Oh ya diskusi kali ini dimoderatori oleh Mbak Hiday Nur ya teman-teman.
Tanya  : “Jadi, kak, dari mana biasanya dirimu menemukan ide?”
Jawab  : “Oke. Dalam beberapa cerpenku, aku menemukan ide dari mimpi. Jadi ketika aku tidur ran bermimpi sesuatu dan masih teringat sampai bangun, kalau mimpi itu menarik akan kutulis dalam draf. Selain dari mimpi kadang dari bacaan. Kalau pas baca karya siapa gitu, dan tertarik, aku tandai biasanya.”

Tanya  : “Dimana biasanya menulis draftnya Mas?”
Jawab  : “Kadang di status WA. kadang di grup, kadang di note pribadi. Kadang langsung tulis di laptop.”

Tanya  : “Pernah nggak lupa mimpi tapi kayaknya penting banget dan kamu tersiksa karena ingin menulisnya tapi tak tahu itu apa? Apa yg kamu lakukan biasanya?”
Jawab  : “Ikhlaskan saja sih. Wong udah lupa. Ide itu rejeki, kalo emang itu rejeki kamu ya gak bakal ilang gitu aja. Maaf mendadak relijies.”

Tanya  : “Kadang mimpi itu hanya kita ingat saat terbangun. Ketika sudah pagi atau lewat hari, suka lupa? Bagaimanakah itu? Apakah cerita yang bersumber dari mimpi lebih aman difiksikan?”
Jawab  : “Soal aman tidaknya tergantung gimana kita menceritakannya ya. Ada yang pernah nonton movie Kimi no Nawa? Itu pembukaannya menginspirasi buat dijadiin cerpen lho.
Yang aku maksud, kurang lebih begini: Kadang2 aku terbangun dari mimpi dan tiba2 menangis. Ini sesuatu banget menururku. Dari sini aku jadi bayangkan tentang seseorang yang belum pernah bermimpi dan tiba2 bermimpi. Kemudian dia begini-begini dan begini. Karena meresa terganggu oleh sesuatu yang baru.

Tanya  : “Kalau sudah dapat ide,dan ternyata kebanyakan. Ide mana dulu yang harus ditulis lebih dulu?”
Jawab  : “Mana yang disuka saja mba... masak ginian mau istikhoroh segala. Bhahaha... ops...

Tanya  : “Oke setelah menemukan ide, bagaimana biasanya kamu akan meramunya menjadi sebuah cerpen. Kan ada tuh ya, udah tau mau nulis apa tapi bingung, harus dari mana?”
Jawab  : “Aku tulis aja dulu biasanya. Baru nanti mikir ide ini bagusnya diginiin. Ini ngerjakannya pakai insting sih menurutku.”

Tanya  : “Btewe, di buku kumcer kak umar yg tuebeel itu kan macem2 ya isinya (yang penasaran buruan pesen keburu habis), kalo kataku sih itu itu jurnal dan catatan2 kejadian yang dicerpenkan. Berapa persen kak umar memberikan unsur dramatisasi kejadian nyata untuk dicerpenkan?”
Jawab  : “Kejadian nyatanya hanya sekelumit saja. Sisanya biar imajinasi yang mengatasi.”

Tanya  : “Kak Umar kulihat suka alur yg pelan ya. Maksudnya 1 aja premis sederhana bisa jadi satu cerita pendek yang cukup panjang. Kok suka model plot gitu kenapa?”
Jawab  : “Aku lihat beberapa cerpen koran sukanya main ubek2 di situ2 doang, jadi mau gak mau juga main ke situ. Main ubek2an. Tapi gini sih, kalo cerpen dengan plot cepat itu rawan lho... rawan kebaca bahwa penulisnya keburu2. Tapi tinggal penuangannya sih... Kalo plot yang sat-set biasanya kupakai buat verpen yang aksi, kayak dalam cerpen Memenggal Kepala Sang Raja.

Tanya  : “Bagaimana cara mencari inspirasi dari hal yang sederhana menjadi luar biasa, Apakah ada triknya? Semoga bisa dibagi beberapa kiatnya juga berdasarkan pengalaman Abang selama ini?”
Jawab  : “Aku merasa masih sederhana saja dan belum luar biasa. Meski demikian aku akan mencoba menjawabnya. Pertanyaannya adalah "bagaimana cara mencari". Siapkan peralatan pencarianmu setiap waktu. Bila ada sesuatu yang menarik, kantongi dia. Proses pencariaan tidak hanya yang bisa ditangkap indera penglihatan saja ya. Gunakan berbagai indera. Atau misalkan kamu fokus satu saja. Misal nih. Sekarang kamu bayangkan dirimu berdiri di bawah matahari pukul 11 siang di tepi jalan. Gunakan indera pendengar saja. Kamu bisa menjadikan cerpen dari sini.

Tanya  : “Ide dan semangat itu kan tidak ubahnya seperti iman. Kadang naik, kadang turun ....
Apa Kak Umar pernah merasakan ide atau semangatnya turun drastis alias down? Bagaimana menyikapi saat semangat itu turun, agar bisa kembali bangkit dan nggak berlarut-larut dalam keadaan tersebut?”
Jawab  : “Relijies banget pertanyaannya.. subhanallah... Tapi untuk urusan iman konsultasinya sama ustajah Hiday Nur aja ya. Untuk semangat nulis nih. Hal yang perlu ditanyakan ada gak sih yang bikin kamu semangat nulis? Oke oke... aku pernah kehilangan semangat nulis, bahkan, jangankan nulis, baca aja gak semangat. Kurasa semua penulis peenah kok ngalami fase ini. Dinikmati aja. Kepalamu bukanlah kepala M Aan Mansyur yang pernah bilang: "kepalaku kantor paling sibuk sedunia." Dinikmati aja. Baca yang ringan2 dulu, nonton film, main ke pantai atau gunung, lalu nulis lagi.

Tanya  : “Menurut kakak, untuk pemula lebih baik menulis kisah apa? Nyata, fantasi atau...? Bagaimana cara menemukan jati diri yang sesungguhnya, atau kalau nulis Passion atau yang cocok dengan aku "ini"?? Maaf banyak bertanya, karena masih pemula dan haus ilmu ????
Mohon pencerahannya??????
Jawab  : “Untuk pemula mungkin kamu bisa belajar dari nulis surat ya. Kamu bisa baca cerpen Trilogi Alina karya Seno Gumira Ajidarma untuk belajar. Itu cerpen surat yang bagus. Dan menulis cerpen model surat gini, meskipun udah agak basi tapi cukup bagus buat melatih imajinasi kamu.”

Tanya  : “Kak Umar biasanya dapat ide nulis dari mana yang paling dominan?”
Jawab  : “Aku merasa pindah-pindah dan musiman ya. Jadi belum ada yang menurutku dominan. Kalo ditanya dari mana ide datang, bisa dari mana saja. Dari tempat ziarah, dari film, dari nontom wayang, dari baca buku, dari macem2...”

Tanya  : “Kak Umar Bagaimana agar ide kita nggak alay?”
Jawab  : “Mungkin kamu bisa jelaskan mana yang kategori ide yang alay sama yang enggak alay?”

Tanya  : “Kalau kita dapet ide nih misal ya kak. Terus cara mengembangkan ide biar nggak ngalor ngidul ga puguh gmn caranya??”
Jawab  : “Dalam drafku beberapa kali aku membuat bagan adegan. Biasanya aku tulis satu atau dua kalimat yang bisa menandai ide adegan. Buat bagan ini dari awal sampai akhir. Dari tiap kalimat biasanya bisa aku kembangkan menjadi beberapa pargraf. Gitu aja aih biar fokus.”

Tanya  : “Bagaimana cara membuat judul yang mengharu biru?”
Jawab  : “Ini soal rasa sih... karena soal rasa, perlu olah rasa. dan bahan bacaan juga sangat berpengaruh. Perihal judul, kamu bisa mencoba hal-hal ini:
1. Memetik dari puisi, Semusim dan Semusim Lagi (Novel Andlina Dwi Fatma), Yang Fana Adalah Waktu, Kita Abadi (Novel Sapardi Djoko Damono)
2. Membuat pertanyaan: Agama Apa yang pantas bagi pohon-pohon? (Eko Triono)
3. Menggunakan pernyataan pengumuman: Hanya Anjing yang Boleh Kencing Di Sini (cerpen Mashdar Zainal), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (Seno Gumira Ajidarma)
4. Menggunakan angka: 1984, 5 cm, Fahrenheit 451
5. Tentukan gayamu sendiri
Oya, dalam menulis puisi kalau gak salah ada sesuatu yang bernilai plus bila ada perulangan bunyi "ng" "ah" di akhir. Ini juga bisa dipakai dalam menulis judul maupun dalam badan cerpen. Biar terkesan liris. Contohnya: Padang Ilalang di Belakang Rumah karya NH DIN

Tanya  : “Judul buku DKDB (kenjangan mau ngetik judulnya) itu inspirasinya dr mana? Apa terinspirasi dr  Surga yang tak dirindukan 2 ?
Jawab  : “Judul ya? Judul itu terinspirasi judul Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi. Jadi aku ingin menulis ttg surga para hewan. Lalu berpikir, selain buah khuldi kira2 apa ya yang dilarang di surga?

Oh ya tambahan dari Kak Umar mengenai ide dari mimpi, Kak Umar mengatakan bahwa ide dari mimpi tidak melulu menuliskan (menumpahkan apa yang kita mimpikan ke naskah), kita bisa menuliskan kondisi kita pasca mimpi itu atau sebelum mimpi itu. Dan mimpi itu sebagai bahan konflik saja. Baiklah sekian resume diskusi kelas fiksi minggu lalu. Jadi sudah menemukan ide tulisan apa hari ini?